September 01, 2013

What Doesn't Kill You, Make You Stronger

"There's always something good in every bad situation, so nothing I can say more than thank you"


Kamis lalu, tanggal 29 Agustus 2013, saya mengalami - sebut saja- kecelakaan. Saya dan beberapa orang teman memang dikirim oleh kantor untuk acara bazzaar yang diadakan kantor kami di Mall Paragon, Semarang. Kami tiba di Semarang sejak hari Selasa, 27 Agustus 2013 pagi. Dari pagi sampai sore kami habiskan untuk store visit lalu malam hingga pagi esok harinya kami habiskan untuk menyiapkan bazaar yang akan berlangsung mulai Rabu, 28 Agustus 2013. Badan lelah, mata mengantuk karena semalaman itu berarti kami tidak tidur sama sekali. Bazzaar hari pertama berlangsung dengan cukup sukses walau memang masih banyak yang harus ditambal sana-sini.

Rabu malam menuju hari Kamis, kami akhirnya dapat kesempatan tidur. Di kasur hotel yang cukup empuk dengan ruangan yang juga sejuk dan badan yang sudah sangat amat lelah, harusnya saya bisa dengan mudah terlelap, tapi ternyata tidak. Haiiiss... Beberapa kali saya terjaga dan itu menyebalkan. Tapi lumayanlah bisa sedikit mengobati rasa lelah, walau tidak terpuaskan.

Kamis pagi, setelah sarapan, kami memutuskan untuk menuju Mall terlebih dahulu untuk membantu menyiapkan barang, display, dll. Setelah melihat barang-barang, saya dibantu seorang ArCo (Area Coordinator), sebut saja namanya R, membereskan barang-barang indent kami. Barang-barang indent itu maksudnya sandal-sandal jepit yang terbuat dari bahan EVA ataupun Microlon. Kebetulan memang barang ini laris diserbu pembeli di hari pertama, jadi kami berdua mendisplay lagi stok yang ada. Display barang-barang indent ini memang beda dari sepatu atau sendal lainnya. Mereka digantungkan pada hook yang terbuat dari besi. Yang jika mau digeser saja, beratnya bukan main.

Berhubung stok yang sedang kami display habis, maka saya pun berinisiatif bangun dari tempat saya duduk ke tempat stok lainnya. Tiba-tiba tidak lama setelah saya berdiri dan jalan, saya mendengar suara orang-orang berteriak, "Awas, rubuh!" Spontan saya menengok, lalu,, gelap.

Ternyata, gak ada angin gak ada badai, gapura kayu yang menutupi panggung belakang bazzaar kami rubuh. Besarnya lumayanlah, ada sekitar 3,5x5 meter. Dan itu dengan tepatnya rubuh menimpa saya, sodara-sodara. Hadeuuuh... Sebenernya saat dunia menjadi gelap, saya masih tidak begitu menyadari kalau saya yang tertimpa cukup parah. Saya masih memikirkan nasib si R karena dia yang ada di tengah-tengah area. (Ternyata si R tidak kena apa-apa dan baik-baik saja). Tetapi ketika gapura itu mulai diangkat dan seorang teman menghampiri saya dan menanyakan saya bisa bangun atau tidak, ternyata,, saya tidak bisa bangun T.T Hiiikkss... Itu kali pertama saya merasa dunia berputar dan badan tidak mau nurut dengan perintah otak. Dan rasa sakit yang amat sangat pun melanda.

Setelah akhirnya beberapa lama terdiam saya berhasil bangun dengan sempoyongan. Oleh EO bersama beberapa teman, saya dibawa ke rumah sakit terdekat. (Yang pada akhirnya tidak membantu). Sore harinya memang jadwal kami untuk pulang ke Jakarta. Di bandara saya baru memberitahu orang rumah tentang kecelakaan yang terjadi.Setelah delay beberapa jam, akhirnya kami terbang kembali ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta, saya langsung dijemput orang rumah dan dibawa ke Sinshe langganan.

Kondisi saya Kamis sore itu adalah kepala sakit bukan main, leher tidak bisa nengok, bahu sakit, -maaf- pantat pun sakit. Sesampai di sinshe saya langsung dibekam di bagian leher. Hasilnya merah2 seperti buah anggur. Haiiisss... Jangan tanya apa saya bisa tidur, karena jawabannya TIDAK!

Jumat pagi akhirnya saya ke rumah sakit untuk berobat dengan dokter saraf supaya bisa CT Scan, rontgen tulang leher dan kepala. Thanks God, hasilnya ok. Gak ada tulang yang patah atau retak, gak ada pendarahan di dalam. Hasilnya hanya lebam-lebam dan benjol di hampir semua bagian kepala, ketengangan leher dan bahu yang cukup parah, dan lebam-lebam di dada, bahu dan anggota tubuh lainnya. Fuiihh... Lega.

Saya masih yakin bahwa saya sangat beruntung dan sangat bersyukur untuk itu. Kalau memang lagi mau sial, saya percaya kita gak akan bisa lari kemana-mana. Hanya seberapa berat hasilnya, itu yang jadi soal. Saya membayangkan kalau saat itu saya gak bangun dari tempat saya duduk, saya mungkin tertusuk hook-hook besi sandal indent itu (karena besinya runtuh semua). Kalau tertusuk hook besi itu, yah bisa dibayangkan gimana hasilnya saya sekarang. Masih untung saya cuma lebam-lebam, benjol-benjol, gak ada patah tulang atau pendarahan yang berarti.Bisa dibayangin'kan kalau sampai patah tulang, butuh waktu berapa lama untuk recovery? Sementara bulan depan saya sudah pemberkatan. So thankfull for that. Dan untungnya lagi kejadiaannya sekarang, gak seminggu atau beberapa hari sebelum pemberkatan saya. Fiiiiuuhh...

Dari kejadian ini saya benar-benar sadar dan diingatkan kembali bahwa gak ada satupun yang bisa menghancurkan sekaligus melindungi kita selain diri kita sendiri. Mau kita untung atau malang, perbuatan kita sendiri yang menentukan. Bayangkan aja, dari sekian banyak orang yang di sana, kenapa cuma saya yang kena? Berarti memang karma buruk saya berbuah tepat di saat itu. Tapi bayangkan juga bagaimana caranya ketimpa gapura kayu segede itu dan tepat di kepala, saya hanya lebam-lebam saja? Berarti saya masih punya karma baik untuk melindungi saya. Dan saya sangat bersyukur karena itu.


:)

*image from google image

Tidak ada komentar:

Posting Komentar