Mei 04, 2009

Kenalkan, Namaku Vento


Hai, kenalkan, aku si gajah biru. Biasanya dan selalu hari-hariku aku habiskan di tempat kakek Xo, duduk dan menunggu. Sampai bosan. Seperti biasa, pagi ini aku bangun dari tidurku yang nyenyak. Kakek Xo sedang beres-beres. Beliau menata si eyang Teddy, beserta cucu-cucunya yang membawa sebentuk hati di dada mereka pada etalase depan. Lalu tidak lupa gadis-gadis bunga mawar juga ditata kembali. Yah, beberapa minggu belakangan ini, mereka sangat banyak dicari. Aku tanya pada kakek Xo ada apa sih sampai mereke begitu dicari. Kata kakek sebentar lagi hari Valentine, biasanya pada hari Valentine mereka sangat populer, dan diburu banyak orang sebagai tanda kasih sayang. Begitulah kira-kira penjelasan kakek. Dan hari ini tepat hari Valentine. Semakin bosanlah aku menunggu, karena aku yakin tak ada yang mencari sebuah gajah biru di hari valentine sebagai lambang kasih sayang. Jadi, aku hanya diam membisu, memperhatikan pasangan muda-mudi yang berlalu lalang. Dan kakek benar, hampir semuanya membawa si gadis bunga mawar. Di sela-sela kebosananku, ada tiga orang pria masuk ke tempat kakek Xo. Haaaaah,,pria-pria deadline, pikirku. Mencari di saat terakhir. Tapi apalagi yang mereka cari jika bukan cucu-cucu si eyang Teddy atau si gadis bunga mawar. Aku menunduk dan bersedih. Aku tahu aku hanya sebuah gajah biru. Yah gajah biru, gajah aneh yang tidak normal. Aku pernah protes pada kakek Xo, mengapa warnaku biru. Tak ada gajah berwarna biru, karena gajah berwarna abu-abu. Karena aku biru, tak ada orang yang mau membawaku pulang. Kakek Xo hanya tersenyum waktu itu mendengar protesku. Dengan tenang ia menjawab,”Gajah biru, sabarlah. Tak ada yang salah dengan warnamu. Justru karna warnamu birulah kamu menjadi spesial diantara gajah-gajah lainnya. Sabarlah, suatu saat nanti kakek yakin akan ada sepasang tangan yang membawamu pulang dan melihat betapa spesialnya birumu itu. Gajah biru, bersabarlah, semua akan indah pada waktunya. Dan kamu hanya perlu bersabar menunggu saat itu datang.” Ya kakek Xo, tapi kapan…

Di tengah-tengah keputusasaanku, aku merasa melayang. Eh,,aku terbang. Eh,,tapi bukan deh, ternyata salah satu dari pria tadi mengambilku. Lalu temannya ku dengar berkata, “Gajah biru? ga salah? yakin mau ngasih itu?ini kan Valentine, masa sih kasih gajah,,ga ada yang lebih romantis apa yang lain?” Aku semakin sedih. Kedua temannya pun menunggu di luar. Lalu tubuhku di putar-putar oleh anak laki-laki ini. “Oke” katanya. Aku dihadapkan kembali sejajar dengannya. Ia tersenyum puas. Lalu ia berbisisk padaku, “Aku akan membawamu pulang, tapi sebelumnya berjanjilah padaku satu hal. Nanti, jagalah dia dengan baik, oke?” Aku mengangguk, walau aku tak yakin benar maksudnya. Aku diserahkan pada kakek Xo untuk dibungkus. Sebelum akhirnya aku dimasukan dalam ruang sempit dan gelap itu, aku berpamitan pada kakek Xo. Kakek hanya tersenyum padaku, dan matanya seolah-olah berkata,”benarkan apa kakek bilang. Saatnya tiba sudah.” Tapi kakek… Kata-kataku pun terputus, aku diikat dengan kuat hingga tak bisa bernafas, dimasukkan dalam ruang itu. Gelap. Aku bergoncang tak tentu arah. Mual. Pengap. Sampai setelah sekian lama, goncangan itu mereda..

“Happy Valentine yah” ku dengar kembali suara laki-laki yang menurunkan aku tadi. “Happy Valentine juga” kali ini kudengar suara anak perempuan. “Nih buat kamu.” “Wah apaan nih? Lucu banget plastiknya warna biru” Ehmm,,pertanda awal yang buruk. Anak perempuan itu lebih memilih plastiknya daripada isinya. Aku takut. “Dibuka dong” “Sekarang?” “Iyalah, masa tahun depan” Yah sudahlah cepat buka aku, lalu tendang aku jauh-jauh kalau nanti kau tidak suka, yang penting aku bisa bernapas dulu. “Yah udah aku buka yah.” “Eh,,tapi tunggu dulu, tebak dulu isinya apa?” “Ehm,,apa yah,,kalo buku ga mungkin segede ini.” Yah iyalah mana ada buku segede ini, aku kesal. “Isinya kan anak anjing” “Sumpah sih?” aku dilempar. Pertanda buruk lagi, anak perempuan yang bodoh. Mana ada anak anjing dalam kardus seperti ini, mati dong. “Yah ga lah kalo anak anjing udah mati kali,”jawab si anak laki-laki. “oh iya yah,,” “tebak lagi apa isinya..” “aku tau,,pasti boneka beruang yang besaaaaaaaaaaaaaar” “yeeeeeaaahh,,bener!!” boneka beruang?? nah lho,,anak laki-laki ini bilang aku bener boneka beruang, ga salah? aku gajah,bukan beruang,,bukan si eyang Teddy. Aku semakin merasa buruk. “Yah udah buka gih” Aku dibuka. yang terlihat pertama kali jelas warna biru ku. Sudahlah,,pikirku. “Eh biru” kata anak perempuan itu. “Wah aku dapat beruang biru” celotehnya. Lalu aku diangkat, dikeluarkan dari kotak itu. “Eh,,bukan beruang yah,,” kata anak itu. Satu persatu ikatanku dibuka. Aku tak sanggup membuka mata untuk menerima tatapan penyeselan karena aku bukan eyang Teddy yang anak perempuan itu maksud. Aku,,hanya sebuah gajah biru. Yah,,gajah biru…

Tiba-tiba..”Whaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa gajah biru, gajah biru, gajah biru…” teriak anak itu. Semuanya terjadi begitu cepat. Tiba-tiba saja aku merasa hangat. Aku sudah berada dalam pelukan anak perempuan itu. Aku dipeluk..kakek Xo,,aku dipeluk. Aku tidak ditendang-tendang, tidak dicaci-maki. Aku dipeluk kakek,,aku dipeluk, teriakku dalam hati. “Kamu suka?” tanya anak laki-laki itu. “hu-uh, yup aku suka, suka banget” jawab anak perempuan itu sambil tetap memelukku. “Syukurlah,,” kata anak laki-laki itu. “Tau ga kenapa aku kasih gajah, bukan beruang?” lanjutnya. Aku membeku, ini yang aku tunggu. Yah kenapa kamu memihku anak laki-laki, kenpa kamu tidak memilih si eyang Teddy atau si gadis-gadis bunga mawar. “ehm,,,karena kamu si gajah, hehehe” jawab anak perempuan itu sekenanya. ” yah ga tau,,habis kenapa dong?” katanya lagi. “Karena…ehm,,,satu, gajah itu binatang yang peka banget sama air.” “Lha terus kenapa?” “iya, kerena itu dia jadi binatang yang paling survive dari dulu sampai sekarang. “ooh,,terus..” “terus,,,dua,, gajah itu setia lho..” “OH YAH??? Gajahkan mukanya sama semua, jadi tau darimana dia setia, ih sok tau.” “iiih,,beneran,,gajah itu binatang yang setia tau!! Mang ga pernah nonton animal planet yah?” “di animal planet juga ga pernah dibilang kok gajah setia” “iiih,,pokoknya gajah itu binatang yang setia.” “ooh,,ya udah..” “Trus,,,” “ada lagi?” “iya ada,,” “kenapa lagi” “soalnya kalo isinya beruang ga special lagi, pasti kamu udah tau, Jadinya aku kasih gajah deh. Gajahnya biru pula, pasti kamu suka birunya, iya kan?” “iyaaaaaaaaaa,,hahaha” Ah,,,ternyata,,,kakek Xo,,kakek benar. Aku special karena biruku. Biru yang selama ini selalu aku keluhkan dan tidak aku inginkan. kakek,,aku,,bahagia,,,”yah udah dikasih nama dong” “oh iya yah,,sapa yah..” “yah siapa gitu terserah kamu..” “ehm,,, yah udah,,aku kasih nama,,,,Vento,,yah namanya Vento aja yah..” “Yah udah namanya Vento yah,,”

Sekarang aku bukan lagi sekedar si gajah biru,,aku punya nama. Namaku Vento. Aku Vento si gajah biru. Tugasku susah-susah gampang. Ingat yang dibisikan anak laki-laki itu ketika pertama kali membawaku? Ya, benar..tugasku menjaga anak perempuan ini. Menjadi temannya setiap saat, kapanpun dia butuh. Membangunkannya di pagi hari. Menjaganya hingga terlelap di malam hari. Menemaninya di saat anak laki-laki itu pergi jauh..

Aku Vento si gajah biru yang bukan sekedar sebuah gajah biasa. Aku Vento si gajah biru yang sekarang memiliki arti lebih dari sekedar sebuah gajah biru..

Ya,,aku Vento,,si gajah biru..

Kenalan ya,,,

p.s. from old blog for Valentine Day 2009

*cherish